Islam dan Toleransi

“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,” (QS al-Maidah [5]: 48).

Pluralitas atau keberagaman, baik keragaman etnis, suku, bangsa, dan agama, adalah sunnatullah. Tujuan dari penciptaan yang berbeda itu agar manusia bisa saling mengenal (lihat, QS al-Hujurat [49]: 13).

Dalam satu ayat Allah mengingatkan kita bahwa Dia sebenarnya bisa menciptakan manusia menjadi satu umat, namun Allah ingin menguji kita dengan perbedaan itu dan untuk kemudian saling berlomba-loba berbuat kebajikan. Firman-Nya, “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka ber¬lomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberi¬tahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,” (QS al-Maidah [5]: 48).

Pentingnya Toleransi
Ayat di atas menegaskan bahwa perbeda¬an atau keragaman adalah sebuah keniscaya¬an, tidak bisa ditolak dan merupakan kehen¬dak Allah Swt. Karena keragaman adalah sunnatullah, maka hidup tanpa toleransi sangat tidak mungkin. Tanpa toleransi, kon¬flik dan pertumpahan darah adalah sebuah keniscayaan. Toleransi merupakan obat penghilang konflik yang seringkali muncul bersamaan dengan adanya perbedaan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia toleransi didefinisikan sebagai sifat atau sikap menenggang (menghargai, membiarkan, mem¬bolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan lain sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Sedangkan pengertian toleransi sebagai istilah budaya, sosial dan politik, ia disimbol¬kan sebagai kompromi beberapa kekuatan yang saling tarik-menarik atau saling berkon¬fron¬tasi untuk kemudian bahu-membahu membela kepentingan bersama, menjaganya, dan memperjuangkannya. Maka toleransi dimaknai sebagai kerukunan sesama warga negara dengan saling menenggang berbagai perbedaan yang ada. Sikap toleran menuntut kita menerima orang lain dan mempersila¬kan mereka berbuat apa yang menurut mereka baik meskipun kita tidak setuju.

Mengenai toleransi umat beragama antara Islam dan Kristen, Azyumardi Azra dalam bukunya Konteks Berteologi di Indonesia; Pengalaman Islam mengemukakan bahwa lebih dari seribu tahun umat Muslim dan Kristen mengembangkan gagasan-gagasan kerukunan hidup antar umat beragama berdasarkan kepercayaan mereka masing-masing.

Menurut Azra, sejak masa pertengahan, dialog-dialog antaragama yang pertama dalam sejarah telah mulai dilakukan di istana-istana para penguasa Muslim di Baghdad dan Andalusia.

Untuk konteks Indonesia, toleransi antar¬umat beragama menjadi salah satu ciri utama negara Indonesia yang tersirat dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika, disamping prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, dan gotong royong. Secara umum, toleransi antarumat beragama di Indonesia berjalan relatif sempurna. Hal ini pun diakui oleh dunia internasional.

Pengakuan itu terungkap dalam seminar bertajuk Unity in Diversity, the Culture of Coexistence in Indonesia (bersatu dalam kera¬gaman: budaya hidup berdampingan dengan damai di Indonesia) yang digelar bulan Maret lalu. Dalam seminar itu Menteri Luar Negeri Italia Franco Frattini dalam sam¬butannya pada awal seminar jelas-jelas ”me¬minang” Indonesia menjadi pelaku per¬damaian. Ta¬war¬an serupa telah diutarakan pula Perdana Menteri Australia dan bebera¬pa negara lain yang ingin melamar Indo¬nesia sebagai mitra dalam percaturan relasi inter¬nasional.

Seminar bertempat di Roma tersebut membidik salah satu unsur sentral kearifan budaya (cultural wisdom) Nusantara yang kini mempunyai nilai pikat dan relevansi sangat tinggi, yakni kemampuan hidup bersama secara rukun dalam perbedaan. Sering terjadi pergesekan dalam relasi, tetapi keharmonisan telah menyejarah dan menjadi pengalaman dominan dalam hidup bersama di Indonesia.

Pengakuan dunia internasional tersebut menjadi bukti bahwa sebagai penduduk mayoritas, umat Islam Indonesia mampu menerapkan sikap toleran dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Toleransi Islam
Praktik toleransi yang diterapkan umat Islam Indonesia dalam menyikapi perbedaan yang ada sejalan dengan nafas Islam. Prinsip toleransi yang dibangun Islam dalam mem¬bangun kerukunan antarumat beragama di¬lan¬das¬¬kan pada dua hal.

Pertama, tidak ada pemaksaan agama (lâ ikrâha fi ad-dîn). Islam merupakan agama dakwah. Prinsip dakwah yang diajarkan Islam adalah mengajak pada kebenaran, dalam hal ini agama Islam, tanpa ada pe¬mak¬saan karena antara yang benar dan yang salah telah jelas (QS al-Baqarah [2]: 265).

Dalam mengajak manusia bernaung di bawah agama Islam yang hanif, pada da’i hanya dibenarkan membeberkan risalah kebe¬nar¬an Islam kepada umat lain. Setelah itu, terserah mereka untuk beriman atau menjadi kafir.

Kedua, mengakui perbedaan identitas agama masing-masing (lakum dînukum wa liya dîn). Surat al-Kafirun ayat 6 menegaskan prin¬sip yang pertama ini. Prinsip ini menjelas¬kan bahwa Islam mengakui hak hidup agama lain dan menghargai para pemeluk agama-agama tersebut untuk menjalankan ajaran-ajaran agama masing-masing.

Di sinilah terletak dasar ajaran Islam mengenai toleransi beragama. Menurut Islam, lepas dari soal apa agamanya, penganut agama lain harus dihargai sebagai manusia sesama makhluk Allah Yang Maha Esa. Sebab Allah sendiri pun menghormati manu¬sia, anak cucu Adam di mana saja ia berada, dengan segala potensi dan perbedaannya (QS al-Isra’ [17]: 70).

Karena Allah Swt memuliakan manusia, terlepas dari latar belakang perbedaan keya¬kin¬an, maka ajakan kepada kebenaran (dak¬wah), haruslah dilakukan hanya dengan cara-cara yang penuh kearifan, kesopanan, tutur kata yang baik.

Ajaran Islam mengenai hidup berdam¬ping¬an dengan damai dan meng¬¬¬har¬gai peng¬anut agama lain bisa dilakukan dari lingkup terkecil seperti ber¬tetangga. Dalam hadits disebutkan siapa pun yang beriman kepada Allah Swt dan Hari Akhir, hendaknya memu¬liakan tetang¬ga. Da¬lam hadits tersebut tidak ada dikotomi apakah tetangga itu seiman dengan kita atau tidak.

Disebutkan dalam suatu riwayat bahwa Rasulullah Saw hendak melarang seorang sahabat untuk bersedekah kepada orang non-muslim yang sedang membutuhkan. Lalu Allah Swt menegur beliau dan menu¬run¬kan ayat berikut, “Bukanlah kewajiban¬mu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya,” (QS al-Baqarah [2]: 272). Dengan turunnya ayat ini, Rasulullah Saw segera memerintahkan umat Islam untuk bersedekah jika men¬dapat¬kan orang non muslim sedang mem¬butuhkan.

Riwayat di atas menjelaskan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk berbuat baik kepada sesama. Karena petunjuk atau hidayah ada dalam kekuasaan Tuhan Swt. Sedangkan urusan manusia adalah mengajak kepada kebaikan, keadilan dan kesejahteraan yang ada di dunia.

Dengan demikian, sikap toleransi yang paling utama untuk kita tumbuh-kembang¬kan adalah praktek-praktek sosial kita sehari-hari. Hal ini dengan kita awali bagaimana kita bersikap yang baik dengan tetangga terdekat kita, tanpa membedakan mereka dari sisi apa pun.
Wallahu a’lam bis shawab.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!